Review Fast X: Konklusi yang Tak Berkesudahan

BERITA472 Dilihat

JAKARTA – Judul-judul film serial Fast hanyalah satu hal yang paling kentara perihal ketidak-konsistenan serial ini. Kalau Anda menyaksikan 9 film Fast sebelumnya, Anda akan menyadari bahwa serial ini tidak hanya bermain-main dengan hukum fisika tapi juga seenaknya saja dalam membuat plot. Orang mati bisa bangkit lagi dengan alasan paling tidak masuk akal. Dom (Vin Diesel) bersama kawan-kawan harus menyelamatkan dunia untuk sebuah penjahat yang motivasinya sangat dipertanyakan. Tidak peduli kalau mereka harus merusak jalanan dan bangunan bersejarah yang penting adegannya seru. Kalau F9 sudah membuat banyak penonton tertawa (termasuk saya) saat melihat adegan mobil di luar angkasa, bersiaplah dengan semua hal konyol yang ada dalam Fast X.

Fast X kabarnya adalah penutup dari kisah keluarga yang hobi balapan ini. Ia dibuka dengan pengingat salah satu entry Fast yang paling mengubah identitas serial ini (Fast Five). Kita dibawa kembali ke Rio de Janeiro untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan aksi Dom dan Brian (almarhum Paul Walker) saat mencuri brankas milik Reyes (Joaquim de Almeida). Kematian Reyes ternyata membuat Dante (Jason Momoa), anaknya, dendam kesumat. Ia pun berencana untuk membuat hidup Dom dan “keluarga”-nya berantakan.

Dengan plot setipis kertas HVS (skrip ditulis oleh Dan Mazeau dan Justin Lin), Fast X adalah sebuah pengalaman menonton yang lumayan mengesalkan karena film ini masih belum selesai. Fast X memang direncanakan sebagai bagian pertama dari konklusi serial ini, tapi saya tidak menyangka kalau pembuat film ini memutuskan untuk membuat trilogi penutupnya dengan cara bercerita ala serial tv. Saya yakin bukan saya saja yang merasa kaget ketika film ini berakhir secara tiba-tiba setelah mereka menggedor layar dengan menampilkan salah satu twist yang (lagi-lagi) tidak masuk akal

Sebagai sebuah entertainment, serial Fast memang didesain untuk membuat penonton mati rasa. Sejauh ini kita memang tidak pernah disuguhi plot yang benar-benar koheren atau setidaknya mumpuni. Formula serial ini adalah set pieces yang megah, penjahat yang larger-than-life, beberapa jokes sana sini, adegan balapan (yang semakin kesini jumlahnya makin sedikit) dan nanti ditutup dengan adegan barbecue bersama. Meskipun formulaic tapi setidaknya film-film tersebut menyelesaikan kisahnya. Fast X dari awal kelihatan sekali tidak berniat untuk mempersembahkan tontonan yang baik.

Keputusan pembuat filmnya untuk memisahkan karakter-karakternya dengan misi masing-masing (yang saya yakin akan menjadi make sense dan mereka akan berkumpul bersama Avengers-style di film “paling terakhir”) membuat seri ini terasa yang paling emotionally-detached. Masing-masing karakter seperti ada di film-film yang berbeda. Dom ada di film thriller ala Liam Niesen; Letty (Michelle Rodriguez) dan Cipher (Charlize Theron) ada di film buddy comedy; Roman (Tyrese Gibson), Tej (Ludacris), Ramsey (Nathalie Emmanuel) dan Han (Sung Kang) sedang main-main ala film comedy heist; dan Jakob (John Cena) bersama Little B (Leo Abelo Perry) ada di film keluarga Disney.

Keputusan memisah-misah karakter ini akhirnya memberikan dampak yang besar terhadap keseluruhan film. Editingnya terasa sekali berantakan dan dinilai dari segi akting, tidak ada satu pun yang konsisten. Semua pemain tetap serial Fast tentu saja bermain aman seperti biasanya. Vin Diesel ngedumel dengan ekspresi keras. Michelle Rodriguez akan terlihat tabah dan kuat. Sung Kang akan ngemil. Dan Ludacris bersama Tyrese Gibson akan menjadi ludruk. Penampilan orang-orang ini tidak mengejutkan. Yang mengejutkan justru penampilan Jason Momoa sebagai penjahat utama yang mencuri perhatian. Tidak seperti penjahat serial Fast yang lain yang selalu brooding dan tampil sok keren, Dante di tangan Momoa dibentuk sebagai sosiopath yang menggemaskan. Ia tidak peduli dengan penampilannya, separuh kalimat yang keluar dari mulutnya adalah banyolan. Tapi di saat yang sama, Momoa tidak pernah kehilangan motivasi utama karakternya untuk balas dendam.

Dari segi adegan aksi, Louis Leterrier yang menggantikan Justin Lin di awal produksi, melukis Fast X dengan kamera yang bergerak seperti orang kesurupan. Satu-satunya film yang bisa menandingi betapa lincahnya pergerakan kamera Fast X mungkin adalah Ambulance-nya Michael Bay. Hasilnya cukup fresh meskipun kemampuannya dalam menyajikan set pieces masih kurang inventif jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Justin Lin di film-film sebelumnya. Tidak ada adegan ikonik seperti mobil loncat
dari gedung.

Sebagai sebuah franchise yang cukup terkenal, saya selalu tahu apa yang saya harapkan saat menonton film-film serial ini. Saya tahu saya akan menyaksikan film dengan plot yang minim dan adegan-adegan keren. Dan setiap filmnya selesai, serial ini berhasil membuat saya untuk tetap semangat menunggu jilid berikutnya. Dalam Fast X untuk pertama kalinya saya merasa jengah. Bahkan dengan cliffhanger dan kejutan yang bertubi-tubi, saya tidak sabar untuk merayakan selesainya seri ini.

Fast X dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop

Sumber: detik.com

Komentar