Dari Hidroponik hingga Dapur Produksi, Wirani Rejosari Tumbuhkan Kemandirian Perempuan di Dumai

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:13:16 WIB
Keterangan Foto: kegiatan kelompok Wirani Rejosari saat memaparkan produk UMKM (Rahmat)

Oleh : Rahmat Hidayat

DUMAI — Di tengah aktivitas masyarakat perkotaan, sekelompok perempuan di Kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, membangun ruang pemberdayaan yang tumbuh dari kegiatan sederhana di lingkungan masyarakat.

Berawal dari aktivitas kader posyandu, Kelompok Wirani Rejosari kini berkembang menjadi kelompok perempuan yang mengelola hidroponik dan UMKM. Di tangan mereka, kegiatan sosial perlahan bertransformasi menjadi aktivitas produktif yang menyentuh sektor kesehatan, ketahanan pangan, lingkungan dan ekonomi.

Ketua Kelompok Wirani Rejosari, Yani, mengatakan saat ini kelompoknya mengelola sekitar 708 lubang tanaman hidroponik. Hasil panen tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan kelompok, tetapi juga dialokasikan untuk mendukung kegiatan sosial di lingkungan sekitar.

“Di posyandu ada pemberian makanan tambahan untuk balita. Kemudian untuk lansia kami juga melakukan pelayanan pemeriksaan kesehatan gratis, seperti cek kolesterol, asam urat dan gula,” kata Yani, Rabu (8/09).

Menurut Yani, kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata bahwa hasil pemberdayaan tidak berhenti pada peningkatan kapasitas anggota kelompok, tetapi juga dikembalikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis yang baru dilaksanakan, sekitar 40 lansia mendapatkan pelayanan pemeriksaan.

“Ini yang ingin kami bangun, bagaimana kegiatan kelompok bisa memberikan manfaat lebih luas. Jadi bukan hanya menghasilkan sayuran atau produk UMKM, tetapi juga bisa membantu masyarakat, terutama kelompok rentan,” ujarnya.

Dari Kader Posyandu Menjadi Penggerak UMKM

Perjalanan kelompok kemudian berkembang ke sektor UMKM. Di lokasi tersebut berdiri dapur produksi yang menjadi tempat para anggota mengolah berbagai produk makanan. Fasilitas produksi yang dimiliki kelompok dilengkapi dengan berbagai kebutuhan pengolahan, sementara produknya telah memiliki Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikasi halal.

Bagi Yani, dapur produksi bukan hanya tempat membuat makanan. Ruang tersebut menjadi tempat perempuan belajar, bekerja dan membangun kepercayaan diri untuk mengembangkan usaha.

“Kami ingin menjadi kader posyandu yang mandiri, berdaya dan bisa berbagi,” katanya.

Para anggota juga terus meningkatkan kemampuan melalui berbagai pelatihan. Salah satunya pelatihan pastry yang diikuti ibu-ibu anggota kelompok untuk menambah keterampilan dalam mengolah produk makanan.

Namun, perjalanan menuju pasar yang lebih luas masih menghadapi sejumlah tantangan.

Dari sisi pemasaran, produk Wirani Rejosari saat ini masih banyak mengandalkan pesanan dari lingkungan sekitar dan internal Pertamina. Untuk masuk ke pasar oleh-oleh secara lebih luas, kelompok masih perlu memperkuat kapasitas produksi, pengemasan dan strategi harga.

“Kalau untuk pemasaran, sebenarnya masih bisa kami atasi. Tantangannya bahan-bahan utama ada yang harganya cukup mahal. Kemudian kalau mau masuk ke pasar oleh-oleh, tentu kami harus menyesuaikan harga dan meningkatkan kapasitas produksi,” jelas Yani.

Meski begitu, dukungan pasar dari lingkungan internal Pertamina menjadi salah satu ruang belajar bagi kelompok untuk menjaga keberlangsungan produksi.

Menurut Yani, pesanan dari internal Pertamina menjadi salah satu sumber permintaan produk yang cukup rutin.

“Yang paling banyak order memang dari internal Pertamina. Minimal order juga ada, sehingga itu membantu kami untuk terus menjalankan produksi,” ujarnya.

Hidroponik dengan Energi Surya

Pengembangan Wirani Rejosari juga tidak hanya menyentuh aspek ekonomi. Kelompok ini mendapatkan fasilitas hidroponik yang dilengkapi panel surya. Pemanfaatan energi matahari tersebut membuat operasional instalasi hidroponik tidak lagi sepenuhnya bergantung pada listrik konvensional.

Bagi kelompok, keberadaan panel surya memberikan pengalaman baru dalam memanfaatkan energi terbarukan sekaligus mendukung kegiatan produktif masyarakat.

Yani mengatakan fasilitas tersebut membantu kelompok mengembangkan hidroponik secara lebih optimal.

“Sekarang hidroponik kami sudah dilengkapi panel surya, sehingga tidak lagi menggunakan listrik seperti sebelumnya. Ini menjadi pengalaman baru bagi kami untuk memanfaatkan energi surya dalam kegiatan kelompok,” katanya.

Konsep tersebut kemudian memperluas makna pemberdayaan yang dijalankan Wirani Rejosari.
Perempuan tidak hanya belajar menanam sayuran, tetapi juga mengenal pemanfaatan teknologi, pengolahan pangan, pengelolaan usaha dan pemasaran.

Pertamina Dorong Pemberdayaan Berkelanjutan

Program pemberdayaan yang dijalankan bersama PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai diarahkan agar masyarakat memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi secara mandiri.

Area Manager Communication, Relations, & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Tengku Muhammad Rum, mengatakan pemberdayaan masyarakat merupakan bagian penting dari kontribusi perusahaan terhadap lingkungan sosial di sekitar wilayah operasional.

“Kami ingin program pemberdayaan tidak berhenti pada pemberian fasilitas. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu memanfaatkan fasilitas tersebut, meningkatkan keterampilan, mengembangkan usaha dan menciptakan manfaat yang berkelanjutan,” kata Tengku Muhammad Rum.

Menurutnya, Kelompok Wirani Rejosari menunjukkan bahwa pemberdayaan dapat dikembangkan dari potensi yang sudah ada di masyarakat. Kegiatan posyandu yang selama ini identik dengan pelayanan kesehatan berkembang menjadi kegiatan produktif melalui hidroponik dan UMKM.

“Kami melihat ada semangat yang kuat dari para anggota untuk berkembang. Ketika kegiatan sosial, ketahanan pangan, pemanfaatan energi terbarukan dan pengembangan UMKM dapat berjalan bersama, dampaknya tentu menjadi lebih luas,” ujarnya.

Tengku Muhammad Rum menambahkan, keberlanjutan program menjadi perhatian penting agar kelompok penerima manfaat mampu terus berkembang setelah mendapatkan pendampingan.

“Harapannya, kelompok ini semakin mandiri, baik dari sisi pengelolaan usaha maupun kemampuan mengembangkan produk. Kami juga berharap manfaatnya tidak hanya dirasakan anggota kelompok, tetapi dapat terus meluas kepada masyarakat sekitar,” katanya.

Lurah: Perempuan Bisa Menjadi Penggerak Perubahan

Perkembangan Wirani Rejosari mendapat perhatian dari Pemerintah Kelurahan Tanjung Palas.

Lurah Tanjung Palas, Herfina Herman, mengaku terkesan melihat perkembangan kelompok tersebut. Sebagai lurah yang baru sekitar satu bulan bertugas di wilayah itu, ia melihat langsung bagaimana aktivitas kader posyandu berkembang menjadi kegiatan pemberdayaan perempuan.

“Saya baru sekitar satu bulan di sini dan cukup kaget melihat perkembangannya. Luar biasa, yang awalnya kader posyandu kemudian bisa berkembang menjadi kelompok yang memiliki hidroponik dan UMKM,” ujar Herfina.

Menurutnya, keterlibatan perempuan menjadi salah satu kekuatan utama dalam pengembangan kelompok.

“Sekarang kita melihat perempuan-perempuan yang aktif dan mampu mengembangkan kegiatan yang memberikan manfaat untuk masyarakat. Ini menunjukkan bahwa perempuan juga bisa menjadi penggerak perubahan di lingkungan,” katanya.

Herfina menilai sinergi antara masyarakat, pemerintah dan Pertamina menjadi bagian penting dalam perkembangan kelompok tersebut.

“Ini tentu tidak terlepas dari sinergi antara Pertamina, pemerintah dan masyarakat. Saya berharap apa yang sudah dibangun ini dapat terus dikembangkan dan manfaatnya semakin luas,” ujarnya.

Ia juga berharap Wirani Rejosari tidak hanya berkembang di tingkat kelurahan, tetapi mampu menjadi contoh bagi kelompok masyarakat lainnya.

“Kalau kelompok ini bisa terus berkembang, bukan tidak mungkin nantinya menjadi contoh dan bisa menginspirasi kelompok perempuan lainnya. Apalagi kegiatan yang dilakukan sudah mencakup ekonomi, kesehatan, lingkungan dan pemberdayaan,” tambahnya.

Menanam Harapan, Memanen Kemandirian
Bagi anggota Wirani Rejosari, setiap tanaman yang tumbuh di instalasi hidroponik bukan sekadar hasil panen. Ada proses belajar, kerja sama dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru.

Begitu pula dengan dapur produksi. Setiap produk yang dihasilkan menjadi bagian dari perjalanan para perempuan untuk meningkatkan keterampilan dan membuka peluang ekonomi.

Perjalanan itu memang belum selesai. Masih ada tantangan dalam pemasaran, biaya bahan baku, kapasitas produksi dan perluasan pasar. 

Namun, bagi Yani, tantangan tersebut merupakan bagian dari proses untuk membangun kelompok yang benar-benar mandiri.

“Kami ingin terus belajar. Harapannya produk kami semakin dikenal, pemasaran semakin luas dan anggota kelompok semakin mandiri,” katanya.

Ia juga ingin kegiatan yang dijalankan kelompok terus memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami tidak ingin hanya berkembang untuk kelompok sendiri. Kalau kami bisa maju, kami juga ingin bisa berbagi dan membantu masyarakat sekitar,” tambah Yani.

Dari 708 lubang hidroponik, tumbuh lebih dari sekadar sayuran. Disana tumbuh semangat perempuan untuk mandiri. Dari dapur produksi, lahir keterampilan dan peluang ekonomi. Dari posyandu, tumbuh kepedulian terhadap balita dan lansia.

Sementara dari panel surya, muncul pengalaman baru tentang pemanfaatan energi terbarukan.

Wirani Rejosari menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa tumbuh dari lingkungan terdekat, dari tangan para perempuan yang mau belajar, bekerja bersama dan kemudian berbagi manfaat.

Apa yang ditanam hari ini bukan hanya sayuran. Mereka sedang menanam kemandirian dan berharap suatu hari dapat memanen kesejahteraan bersama.***

Tags

Terkini